Dunia olahraga di tingkat daerah seringkali menghadapi tantangan besar dalam hal regenerasi. Tanpa sistem yang terstruktur, bakat-bakat muda seringkali hilang setelah mereka menyelesaikan masa sekolah menengah. Menyadari fenomena ini, Bapomi Aceh Timur meluncurkan sebuah terobosan melalui program kerja (proker) yang berfokus pada kaderisasi atlet. Program ini dirancang bukan hanya untuk mencari pemain berbakat secara instan, melainkan untuk membangun pondasi jangka panjang yang menghubungkan dunia pendidikan tinggi dengan prestasi olahraga yang berkelanjutan di wilayah Aceh Timur.
Strategi utama dalam program ini adalah menciptakan integrasi kampus yang harmonis. Selama ini, sering terjadi dikotomi antara prestasi akademik dan prestasi olahraga, di mana mahasiswa seringkali dipaksa memilih salah satu. Melalui kebijakan baru ini, Bapomi Aceh Timur bekerja sama dengan rektorat berbagai perguruan tinggi untuk memastikan bahwa aktivitas olahraga mahasiswa diakui sebagai bagian dari pengembangan diri yang setara dengan kegiatan kurikuler. Dengan adanya pengakuan ini, mahasiswa merasa lebih aman dan termotivasi untuk mengembangkan bakat mereka tanpa rasa takut akan tertinggal dalam urusan perkuliahan.
Proses kaderisasi ini dimulai dari pemetaan minat dan bakat sejak semester awal. Mahasiswa baru tidak hanya disambut dengan pengenalan kampus secara umum, tetapi juga diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan atletik mereka melalui seleksi internal yang sistematis. Bapomi Aceh Timur berperan sebagai jembatan yang menghubungkan hasil seleksi kampus tersebut dengan klub-klub olahraga profesional maupun pemusatan latihan daerah. Pola ini memastikan bahwa tidak ada talenta yang tercecer di tengah jalan karena kurangnya akses informasi maupun kesempatan bertanding.
Selain itu, sinergi dalam olahraga di Aceh Timur diperkuat dengan penyediaan mentor yang berasal dari kalangan alumni atlet yang kini telah sukses di berbagai bidang. Para mentor ini memberikan gambaran nyata bahwa disiplin di lapangan olahraga berkorelasi positif dengan kesuksesan di dunia kerja. Pendekatan ini sangat efektif untuk menarik minat mahasiswa milenial dan Gen-Z yang cenderung berpikir pragmatis mengenai masa depan mereka. Kaderisasi bukan lagi soal mencetak orang yang pandai berlari atau menendang bola, melainkan membentuk karakter pemimpin yang tangguh melalui nilai-nilai sportivitas.