Dalam dunia olahraga prestasi di Aceh Timur, tantangan terbesar bagi seorang atlet yang juga berstatus mahasiswa bukan hanya soal fisik, melainkan bagaimana mereka mengelola ritme sirkadian atau yang sering disebut dengan biological clock. Memasuki tahun 2026, banyak kompetisi tingkat daerah yang diselenggarakan pada malam hari untuk menyesuaikan dengan jadwal siaran atau ketersediaan fasilitas. Bagi mahasiswa yang biasanya memiliki pola hidup aktif di pagi hari karena jadwal kuliah, pergeseran waktu tanding ini bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan strategi yang presisi.
Mengatur biological clock bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Tubuh manusia memiliki jam internal yang mengatur kapan harus terjaga dan kapan harus beristirahat. Ketika seorang atlet dipaksa untuk mengeluarkan performa puncak pada jam 8 atau 9 malam, sementara biasanya jam tersebut adalah waktu mereka mulai bersantai setelah mengerjakan tugas kuliah, maka terjadi benturan energi dalam tubuh. Di Aceh Timur, para pelatih dan pakar olahraga mulai menekankan pentingnya sinkronisasi antara jadwal akademik dan jadwal biologis agar performa di lapangan tidak merosot akibat kelelahan mental.
Salah satu cara efektif untuk memanipulasi biological clock adalah dengan melakukan pergeseran jadwal tidur secara bertahap. Jika jadwal pertandingan sudah diketahui dua minggu sebelumnya, atlet mahasiswa disarankan untuk mulai mengundur jam tidur dan jam bangun mereka sebanyak 15 hingga 30 menit setiap harinya. Dengan cara ini, tubuh tidak akan mengalami kejutan budaya secara fisiologis. Di Aceh Timur, pendekatan ini mulai diterapkan secara disiplin, di mana mahasiswa menyesuaikan waktu belajar mandiri mereka ke malam hari agar otak dan otot terbiasa bekerja pada jam-jam yang tidak biasa tersebut.
Paparan cahaya juga memegang peranan krusial dalam mengatur biological clock. Cahaya adalah sinyal utama bagi otak untuk menentukan kapan harus memproduksi hormon melatonin (hormon tidur). Untuk menghadapi tanding malam, atlet mahasiswa di Aceh Timur disarankan untuk mencari paparan cahaya terang di sore hari dan menghindari kegelapan terlalu dini. Sebaliknya, setelah pertandingan selesai, mereka harus segera menggunakan kacamata anti-radiasi atau meminimalkan cahaya ponsel agar jam biologis mereka bisa segera beralih ke mode pemulihan, sehingga keesokan paginya mereka tetap bisa mengikuti perkuliahan dengan segar.