Olahraga bulu tangkis atau badminton telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat Indonesia, tidak terkecuali di wilayah Aceh Timur. Hampir di setiap sudut desa, kita bisa menemukan masyarakat yang bermain tepok bulu ini, baik di lapangan semen terbuka maupun di dalam gedung sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak fasilitas olahraga ini yang mulai mengalami kerusakan serius. Menanggapi kondisi tersebut, Bapomi Aceh Timur mengambil inisiatif besar melalui program revitalisasi sarana olahraga yang fokus pada perbaikan infrastruktur dasar bagi masyarakat luas.
Langkah nyata yang dilakukan adalah melakukan renovasi besar-besaran terhadap sejumlah tempat olahraga yang sudah tidak layak pakai. Fokus utama dari kegiatan ini adalah memperbaiki permukaan lantai yang retak, mengganti net yang sudah putus, hingga memperbaiki sistem pencahayaan agar lapangan bisa digunakan pada malam hari. Bapomi menyadari bahwa tanpa fasilitas yang mumpuni, semangat masyarakat untuk berolahraga akan menurun, dan potensi atlet muda untuk berkembang akan terhambat oleh risiko cedera akibat kondisi lapangan yang buruk.
Keberadaan sebuah lapangan yang representatif di tengah pemukiman memiliki fungsi sosial yang sangat tinggi. Selain sebagai tempat mengasah fisik, area ini menjadi titik kumpul warga untuk berinteraksi dan mempererat tali silaturahmi. Dengan kondisi yang lebih segar dan rapi setelah diperbaiki, antusiasme warga untuk kembali aktif berolahraga terlihat meningkat drastis. Bapomi Aceh Timur tidak hanya sekadar memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga menanamkan rasa kepemilikan kepada komunitas setempat agar mereka secara mandiri menjaga kebersihan dan kelestarian fasilitas yang telah direnovasi tersebut.
Bagi para badminton lovers di Aceh Timur, program ini adalah angin segar yang sudah lama dinantikan. Banyak talenta lokal yang selama ini kesulitan mencari tempat latihan yang standar akhirnya bisa kembali mengayunkan raket dengan rasa aman. Bapomi juga menggandeng tokoh pemuda di setiap wilayah untuk mengelola jadwal penggunaan lapangan agar lebih teratur dan inklusif bagi semua umur, mulai dari anak-anak sekolah hingga orang tua. Hal ini penting agar regenerasi atlet bulu tangkis di daerah tidak terputus hanya karena kendala fasilitas.