Bulan Ramadan sering kali menjadi momen yang paling sibuk bagi para driver ojek online (ojol). Di saat masyarakat lain bersiap untuk berbuka puasa bersama keluarga di rumah, para pejuang aspal ini justru sedang berada di puncak kesibukan mereka mengantarkan pesanan makanan atau penumpang. Melihat fenomena ini, sekelompok mahasiswa Timur tergerak untuk melakukan aksi nyata yang menyasar langsung kelompok pekerja sektor transportasi daring ini. Melalui inisiatif pembagian rice box untuk ojol, mereka mencoba memberikan apresiasi atas dedikasi para driver yang tetap bekerja keras di tengah ibadah puasa.
Program ini dirancang bukan sekadar sebagai bagi-bagi makanan gratis biasa. Mahasiswa dari wilayah timur Indonesia yang sedang menempuh studi ini memahami betul bahwa asupan nutrisi yang lengkap sangat dibutuhkan oleh mereka yang bekerja di lapangan dengan paparan polusi dan cuaca yang tidak menentu. Oleh karena itu, pemilihan menu dalam kotak nasi tersebut sangat diperhatikan, mulai dari keseimbangan karbohidrat, protein, hingga sayuran. Upaya mahasiswa Timur dalam mengurasi menu ini menunjukkan bahwa mereka sangat peduli pada kualitas bantuan yang diberikan, bukan sekadar kuantitas.
Strategi pendistribusian dilakukan dengan cara menyisir titik-titik pangkalan atau shelter tempat para driver menunggu orderan. Para mahasiswa menyadari bahwa waktu adalah aset berharga bagi ojol. Dengan memberikan rice box langsung ke tangan mereka, para driver tidak perlu lagi membuang waktu atau menguras kantong untuk mencari warung makan saat azan magrib berkumandang. Langkah ini adalah bentuk dukungan konkret bagi para pejuang aspal agar mereka tetap bisa menjaga kesehatan fisik sembari mengejar target harian mereka untuk keluarga di rumah.
Selain manfaat nutrisi, aksi ini juga membangun jembatan emosional antara kaum intelektual muda dan pekerja sektor informal. Dialog-dialog kecil yang tercipta saat pembagian nasi kotak menjadi momen berharga bagi mahasiswa untuk mendengar langsung keluh kesah dan perjuangan para driver. Pengalaman ini memberikan perspektif baru bagi mahasiswa tentang realitas ekonomi di tingkat akar rumput. Kepedulian ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya hidup di dalam “menara gading” akademik, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitar mereka.