Hidrasi di Dalam Air: Kenapa Perenang Sering Lupa Minum dan Bahayanya

Bagi atlet renang, paradoks yang sering terjadi adalah berolahraga di lingkungan yang sepenuhnya basah, namun tetap berisiko tinggi mengalami dehidrasi. Fenomena ini, di mana perenang seringkali lupa atau mengabaikan kebutuhan cairan mereka, merupakan isu kritis dalam ilmu olahraga. Memahami pentingnya Hidrasi di Dalam Air adalah fundamental, karena dehidrasi sekecil 2% dari berat badan dapat secara signifikan menurunkan performa, daya tahan, dan bahkan mengganggu fungsi kognitif selama sesi latihan maupun kompetisi. Hidrasi di Dalam Air sering terabaikan karena mekanisme pendinginan tubuh yang terjadi saat berenang menutupi sensasi haus alami, sehingga perenang tidak merasakan gejala dehidrasi hingga kondisinya sudah parah.

Ada beberapa alasan utama mengapa perenang sering mengabaikan Hidrasi di Dalam Air:

  1. Efek Pendinginan: Air kolam secara konstan menyerap panas tubuh, membuat perenang merasa sejuk, sehingga menekan respons alami tubuh untuk haus yang biasanya dipicu oleh kenaikan suhu inti tubuh.
  2. Keringat yang Tidak Terlihat: Meskipun berada di dalam air, tubuh tetap berkeringat. Kelembaban tinggi di sekitar kolam dan air yang menguap dari kulit menyamarkan keringat ini, membuat perenang tidak menyadari kehilangan cairan yang sebenarnya terjadi.
  3. Keterbatasan Akses: Berhenti untuk minum selama set latihan (set training) yang intens dapat dianggap mengganggu ritme atau instruksi pelatih, sehingga perenang cenderung menunda minum.

Bahaya dehidrasi bagi perenang sangatlah nyata dan spesifik. Dehidrasi tidak hanya mengurangi volume plasma darah, yang membatasi kemampuan tubuh mengangkut oksigen ke otot-otot yang bekerja, tetapi juga secara langsung memengaruhi sistem neuromuskular. Dr. Rina Dewi, seorang Fisiolog Olahraga, dalam workshop kesehatan atlet pada Rabu, 15 Oktober 2025, menunjukkan bahwa dehidrasi 3% dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot hingga 10% dan secara drastis meningkatkan risiko kram, yang merupakan situasi berbahaya saat berada di air.

Untuk memastikan Hidrasi di Dalam Air yang optimal, perenang harus menerapkan protokol minum yang proaktif dan terstruktur, bukan reaktif (menunggu rasa haus).

  1. Minum Sebelum dan Setelah Sesi: Minum setidaknya 500 ml cairan 1–2 jam sebelum berenang. Setelah selesai, perenang harus mengganti 150% dari berat cairan yang hilang (biasanya diukur dengan menimbang berat badan sebelum dan sesudah sesi latihan).
  2. Minum Selama Sesi: Perenang harus minum secara teratur, idealnya sekitar 150–250 ml setiap 15–20 menit selama istirahat antar set latihan. Minuman yang mengandung elektrolit dan karbohidrat sangat direkomendasikan untuk sesi yang berlangsung lebih dari 90 menit.
  3. Memantau Urin: Petugas Medis Tim Renang Regional, Bapak Budi Santoso, sering mengajarkan atlet untuk memantau warna urin setiap pagi hari. Warna kuning muda (jerami pucat) adalah indikator hidrasi yang baik; warna gelap menunjukkan dehidrasi dan perlunya peningkatan asupan cairan.

Dengan menerapkan strategi hidrasi yang ketat dan proaktif, perenang dapat mengatasi ilusi pendinginan air dan memastikan bahwa tubuh mereka berfungsi pada kapasitas optimal, sehingga meningkatkan daya tahan, kecepatan, dan keselamatan di kolam.