Momen paling krusial dalam bulu tangkis sering terjadi di titik-titik kritis, terutama saat skor mencapai deuce (20-20) atau pada akhir set ketiga. Di sinilah Latihan Endurance yang spesifik menjadi penentu utama antara kekalahan dan kemenangan. Latihan Endurance dalam bulu tangkis harus dirancang untuk meniru tuntutan fisik yang unik dari olahraga ini: ledakan energi berulang kali dengan sedikit waktu istirahat. Menguasai Latihan Endurance yang terprogram adalah kunci bagi atlet profesional untuk mempertahankan kecepatan footwork dan kekuatan pukulan, bahkan ketika tubuh mulai memasuki batas kelelahan maksimal.
Tidak seperti olahraga lari jarak jauh, endurance bulu tangkis lebih mengacu pada daya tahan anaerobik dan ketahanan otot spesifik. Latihan yang paling efektif adalah Circuit Training atau pelatihan sirkuit, yang menggabungkan latihan kekuatan dan kardio secara berurutan tanpa jeda panjang. Contoh sirkuit yang ideal meliputi: Squat Jumps (15 repetisi), diikuti Plank (30 detik), kemudian Shuttle Run (lari bolak-balik separuh lapangan) dan diakhiri dengan Push-Ups. Melakukan satu putaran penuh sirkuit ini selama 3 set dengan istirahat minimal akan meningkatkan kemampuan tubuh untuk mengelola asam laktat, yang merupakan penyebab utama kelelahan otot.
Fokus pada ketahanan otot kaki juga merupakan bagian integral dari Latihan Endurance. Gerakan seperti Bounding (lompatan panjang berurutan) dan Lunge berulang, yang ditargetkan pada otot paha depan (quadriceps) dan betis, sangat penting. Otot-otot ini bekerja paling keras saat atlet bergerak dari posisi diam ke smash atau saat melakukan lunge penyelamatan di depan net. Fisioterapis Utama Fiktif, Bapak Agung Prakoso, dalam sesi pelatihan di Pusat Pelatnas Cipayung (fiktif) pada Kamis, 5 Desember 2024, menjelaskan bahwa latihan Calf Raises (mengangkat tumit) harus dilakukan setiap hari untuk memperkuat otot betis, yang sangat vital untuk daya loncat dan push-off di lapangan.
Dengan menggabungkan pelatihan Circuit Training yang intensif dan fokus penguatan otot kaki, atlet memastikan bahwa ketika skor mencapai deuce di set ketiga, kelelahan bukanlah faktor penentu. Mereka mampu mempertahankan teknik pukulan yang benar dan footwork yang cepat, memberikan mereka keunggulan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai angka kemenangan terakhir.